Lihat lebih banyak

Tips Cuan Investasi Crypto dengan Strategi “Buy The Dip”

7 mins
Diperbarui oleh Hanum Dewi
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Dalam berinvestasi baik itu dalam aset saham, cryptocurrency hingga properti, seorang investor pasti ingin mendapatkan harga termurah ketika membeli dan menjualnya di harga yang tinggi. Makanya, market timing menjadi sangat penting untuk meraih profit dalam investasi. Nah, buat investor atau trader cryptocurrency yang pasarnya sangat volatil, perlu strategi untuk mendapatkan keuntungan. Salah satunya dengan membeli di harga murah ketika pasar sedang anjlok. Ketahui berbagai tips untuk melakukan buy the dip untuk investasi crypto dalam artikel ini.

Crypto Exchange terbaik untuk beli kripto

Hadiah hingga US$30.000

Trading dengan fitur lengkap
Hadiah hingga US$30.000
Buka ByBit www.bybit.com
Aset Kripto 470+
Biaya Trading 0,1%
Benefit VIP Fee 0%

Beli Crypto Pakai Rupiah

Biaya Trading Gratis
Beli Crypto Pakai Rupiah
Buka OKX www.okx.com
Aset Crypto 350+
Biaya Trading Gratis (waktu terbatas)
Bonus Ajak Teman hingga $10.000

Bonus USDT 3200

Trading, Leverage, Earn
Bonus USDT 3200
Buka KuCoin www.kucoin.com
Aset Crypto 700+
Biaya Trading 0,1%
Benefit Fee Diskon 20% dengan KCS

Apa itu Buy The Dip?

Buy the dip” adalah istilah dalam dunia investasi yang merujuk pada tindakan membeli aset finansial, seperti saham, cryptocurrency, atau komoditas, ketika harganya mengalami penurunan tajam atau “dip” dalam jangka waktu singkat. Strategi ini didasarkan pada keyakinan bahwa penurunan harga tersebut bersifat sementara dan bahwa aset tersebut kemungkinan akan mengalami kenaikan harga kembali dalam waktu yang lebih lama.

Tujuan dari strategi “buying the dip” adalah untuk memanfaatkan penurunan harga tersebut dengan membeli aset pada harga yang lebih rendah daripada harga sebelumnya. Sehingga, bisa mendapatkan potensi keuntungan ketika harga kembali naik. Ada yang bilang bahwa buy the dip merupakan satu bagian dari strategi dollar cost averaging (DCA), karena membuat rata-rata biaya menjadi lebih rendah.

Untuk menjalankan strategi ini, investor perlu menganalisis dengan cermat penyebab penurunan harga dan menganalisis apakah ada faktor-faktor yang mendukung keyakinan bahwa harga akan kembali naik. Hal ini melibatkan pemahaman yang kuat tentang pasar, tren, dan faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga aset tersebut.

Namun, strategi ini juga memiliki risiko, karena tidak selalu pasti bahwa harga akan pulih setelah mengalami penurunan. Ada kemungkinan bahwa penurunan harga bisa menjadi indikasi perubahan fundamental yang lebih dalam dalam aset tersebut. Makanya, lanjut baca artikel ini untuk memahami lebih dalam.

Menentukan Harga untuk Buy The Dip

Menentukan harga rendah (atau titik masuk yang baik) saat melakukan strategi “buy the dip” merupakan bagian yang penting, tetapi juga bisa menjadi tantangan. Tidak ada rumus pasti untuk menentukan harga rendah dengan akurat, tetapi kamu dapat menggunakan beberapa pendekatan dan alat analisis untuk membantu dalam pengambilan keputusan. Berikut beberapa langkah yang dapat kamu pertimbangkan:

  • Analisis Teknis: Menggunakan analisis grafik dan indikator teknis dapat membantu mengidentifikasi level support dan resistance pada grafik harga. Support adalah level harga di mana aset cenderung berhenti turun dan bisa berbalik naik, sedangkan resistance adalah level harga di mana aset cenderung berhenti naik dan bisa berbalik turun. Menemukan level support yang kuat dapat menjadi tanda bahwa harga sudah “membentur dasar” dan bisa berpotensi naik.
  • Rasio Fibonacci: Fibonacci Retracement adalah alat analisis teknis yang dapat membantu mengidentifikasi level-level potensial di mana harga bisa berbalik arah. Level-level Fibonacci sering berguna dalam strategi “buying the dip” untuk menemukan titik masuk yang potensial.
  • Pola Candlestick: Analisis pola candlestick bisa membantu mengidentifikasi pembalikan harga atau kelanjutan tren. Pola seperti “hammer” atau “doji” bisa memberikan sinyal bahwa harga mungkin akan berbalik naik.
  • Analisis Fundamental: Meskipun strategi “buying the dip” sering berfokus pada analisis teknis, kamu juga perlu mempertimbangkan faktor fundamental. Apakah ada berita atau peristiwa penting yang dapat mempengaruhi harga aset kripto? Apakah ada perkembangan dalam proyek atau teknologi yang mendasari cryptocurrency tersebut?
  • Pengalaman dan Intuisi: Pengalaman dalam memantau pasar kripto dan memahami pola pergerakan harga dari waktu ke waktu juga dapat membantu mengembangkan intuisi tentang kapan harga mungkin mencapai titik rendah.

Tips Strategi Buy The Dip

Meraih untung dari strategi “buy the dip” dalam investasi crypto memerlukan pendekatan yang berdasar pada analisis yang baik, manajemen risiko yang tepat, dan pemahaman yang mendalam tentang pasar. Berikut beberapa tips yang dapat membantu kamu meraih untung dengan strategi ini.

1. Riset Mendalam

Lakukan riset mendalam tentang aset yang kamu minati, dan kamu yakin ingin investasi dalam jangka panjang. Pahami proyek, teknologi, tim pengembang, dan faktor fundamental lainnya yang dapat mempengaruhi nilai aset tersebut dalam jangka panjang. Kalau kamu sudah yakin aset crypto tersebut akan bernilai untuk jangka panjang, kamu bisa nyaman untuk membelinya saat harga turun.

2. Buat dan Patuhi Rencana

Oke, kamu sudah melakukan riset terhadap aset yang ingin kamu miliki. Selanjutnya, kamu bisa membuat rencana untuk menentukan kapan harus mulai membeli dan kapan untuk keluar. Misalnya, dengan menggunakan analisis teknikal, kamu bisa menentukan untuk masuk ketika harga turun 10% dari level tertinggi terakhir.

Kalau sudah memiliki rencana, ikutilah yang sudah kamu buat tersebut. Jangan ketika harga naik sedikit kamu langsung jadi trader, tapi ketika harga turun jadi HODLER lagi. Jadi, pastikan kamu punya tujuan atau target harga dari investasi crypto yang kamu miliki.

3. Siapkan Dana Dingin

Kamu perlu memiliki alokasi uang dingin untuk membeli aset yang harganya sedang turun. Contohnya, alokasi ini sebesar 5% dari nilai aset investasi kamu. Intinya, dana dingin untuk buy the dip ini tidak mengganggu rencana alokasi investasi di aset lain yang sudah kamu miliki.

4. Risiko

Mengelola risiko adalah hal penting dalam berinvestasi. Kamu perlu menetapkan batasan kerugian yang bisa kamu terima sebelum membelinya. Gunakan alat seperti stop-loss untuk membatasi risiko yang bisa kamu terima. Pastikan bahwa kamu memiliki toleransi risiko yang sesuai dengan tujuan investasi jangka panjang. Jangan hanya mempertimbangkan potensi keuntungan, tetapi juga potensi kerugian.

5. Diversifikasi

Meskipun kamu menerapkan strategi “buying the dip,” diversifikasi portofolio tetap penting. Jangan hanya mengandalkan satu aset. Sebaiknya, sebarkan investasi ke berbagai jenis aset kripto dan bahkan kelas aset yang berbeda.

6. Pemantauan Terus-menerus

Meskipun mengadopsi pendekatan jangka panjang, kamu masih perlu memantau pergerakan pasar secara berkala. Kondisi pasar dapat berubah, dan jika ada perubahan yang signifikan dalam faktor-faktor yang mempengaruhi aset, kamu perlu beradaptasi.

Keuntungan dan Kerugian

Pertama-tama, ketika kamu melakukan taktik buying the dip, tentu kamu mengharapkan potensi keuntungan yang besar. Sebab, dengan membeli di harga rendah, kamu punya potensi untuk raih profit saat harga kembali naik. Kemudian, kalau kamu sudah punya posisi, buy the dip bisa mengurangi biaya rata-rata posisi.

Selanjutnya, kamu bisa memanfaatkan volatilitas di tengah pasar crypto yang fluktutaif. Terakhir, kamu punya potensi untuk meraih keuntungan dalam jangka panjang. Kalau kamu yakin pada nilai aset tersebut di jangka panjang, kamu berpotensi menghasilkan keuntungan saat harga kembali naik.

Di sisi lain, ada juga sejumlah risiko dari buying the dip. Pertama, tidak ada jaminan harga akan pulih. Bahkan, bisa saja kamu menghadapi penurunan harga lebih dalam. Kemudian, kamu juga harus menghabiskan waktu dan kesabaran dalam menunggu harga aset kembali naik.

Dalam berinvestasi, termasuk yang menggunakan strategi “buying the dip,” penting untuk memahami bahwa risiko selalu ada. Penting untuk melakukan riset, memiliki rencana manajemen risiko yang baik, dan hanya menginvestasikan dana yang kamu rela kalau mengalami kerugian.

Cek Harga dan Riset Analisis Teknikal

Contoh Buy The Dip

Benarkah buy the dip bisa menguntungkan dalam investasi crypto? Untuk menjawabnya, kamu bisa menggunakan data historis sebagai contoh. Sepanjang sejarah Bitcoin, ada beberapa kali terjadi harga BTC turun signifikan. Namun, Bitcoin berhasil pulih dan mencapai level harga lebih tinggi.

Misalnya, harga Bitcoin sempat mencapai level tertinggi sekitar US$60.000 pada Maret 2021. Kemudian, anjlok menjadi setengahnya pada pertengahan Juli 2021. Bila investor menerapkan buy the dip saat itu, dalam sekitar empat bulan kemudian dia bisa merasakan kenaikan harga hingga 100%.

Sebagai catatan, ini berhasil bila investor menemukan market timing yang tepat terutama ketika menjualnya. Sebab, dalam beberapa waktu kemudian, harga aset crypto tersebut bisa langsung merosot lagi.

Analisis teknikal dan fundamental untuk lakukan buy the dip saat harga Bitcoin jatuh, sehingga berpotensi memberi keuntungan saat harga naik. Sumber
Analisis teknikal dan fundamental untuk lakukan buy the dip saat harga Bitcoin jatuh, sehingga berpotensi memberi keuntungan saat harga naik. Sumber

Buy The Dip vs Dollar Cost Averaging (DCA)

Dalam berinvestasi, “buy the dip” dan “dollar cost averaging” (DCA) adalah dua taktik yang melibatkan pembelian aset finansial dengan harga yang berfluktuasi. Namun, keduanya memiliki pendekatan berbeda terkait timing atau waktu melakukannya. Pertama, buy the dip adalah pendekatan yang lebih aktif karena melibatkan identifikasi penurunan harga tajam dalam waktu singkat. Sementara itu, strategi DCA lebih pasif karena hanya membeli aset secara konsisten atau bertahap dalam waktu tertentu tanpa melihat fluktuasi harga.

Kedua, buy the dip membutuhkan keputusan sekali saja dalam satu momen, yaitu saat harga turun. Ini membutuhkan pemantauan pasar yang lebih aktif dan analisis teknis untuk mengidentifikasi potensi titik masuk yang baik. Di sisi lain, dengan DCA investor tetap membeli aset pada interval tersebut tanpa memperhatikan pergerakan harga saat itu.

Ketiga, buy the dip lebih cenderung untuk tujuan pendek atau menengah karena mencari keuntungan dari fluktuasi harga jangka pendek. Sedangkan, DCA lebih sesuai untuk tujuan jangka panjang. Pendekatan ini dirancang untuk mengurangi dampak fluktuasi harga jangka pendek dan memanfaatkan rata-rata harga dari waktu ke waktu.

Buat investor jangka panjang, taktik buy the dip bisa menjadi pelengkap bagi strategi dollar cost averaging dalam investasi crypto. Sebab, dengan membeli aset ketika harga anjlok dalam, ini bisa mengurangi biaya rata-rata, yang juga sesuai dengan tujuan dalam menggunakan DCA. Harapannya, di masa depan harga aset bisa kembali naik dan investor bisa meraih profit.

Kesimpulan

Buy the dip dapat menjadi salah satu taktik yang investor ambil ketika melihat harga aset crypto sedang jatuh dalam. Namun, perlu pendampingan analisis teknikal dan fundamental untuk memastikan harga tersebut sudah murah. Di samping itu, investor juga harus melakukan manajemen risiko dalam menerapkan strategi investasi crypto.

Sebagai kesimpulan, buying the dip bisa menjadi satu teknik dalam pasar crypto yang berfluktuasi. Bahkan ini bisa menjadi sebuah komplemen bagi strategi lain seperti DCA atau investasi bertahap. Ingat, selalu DYOR dan gunakan uang dingin untuk berinvestasi dalam aset crypto.

Pertanyaan yang sering muncul

Buy the dip artinya apa?

Kapan harus melakukan buy the dip crypto?

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Prioritas kami adalah menyediakan informasi berkualitas tinggi. Kami meluangkan waktu untuk mengidentifikasi, meriset, dan membuat konten edukasi yang sekiranya dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami menerima komisi dari para mitra kami untuk penempatan produk atau jasa mereka dalam artikel kami, supaya kami bisa tetap menjaga standar mutu dan terus memproduksi konten yang luar biasa. Meski demikian, pemberian komisi ini tidak akan memengaruhi proses kami dalam membuat konten yang tidak bias, jujur, dan bermanfaat.

foto-profil-hanum.png
Hanum Dewi
Hanum Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang menarik dan informatif di berbagai topik. Melengkapi kemampuan menulisnya, dia juga selalu mengikuti tren dan perkembangan terbaru di industri cryptocurrency, DeFi, dan web3.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori