Lihat lebih banyak

Bos Palo Alto Sebut Perlu Artificial Intelligence untuk Tangkal Kejahatan Siber

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Bos Palo Alto Networks, Nikesh Arora, menyebut sistem keamanan siber perlu ditingkatkan dengan integrasi artificial intelligence.
  • Menurut Arora, strategi itu perlu dikedepankan, karena pelaku kejahatan siber bergerak lebih cepat dalam setiap aktivitasnya.
  • Salah satu perusahaan keamanan blockchain, yaitu Elliptic, sudah mulai melakukan integrasi terhadap teknologi AI.
  • promo

Pimpinan perusahaan keamanan siber Palo Alto Networks, Nikesh Arora, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap aktivitas kejahatan siber yang belakangan terjadi. Menurutnya, sistem keamanan yang diterapkan oleh berbagai industri saat ini perlu ditingkatkan dengan mengintegrasikan teknologi artificial intelligence (AI) guna memperkuat perlindungan terhadap praktik kejahatan siber.

Menurut Arora, strategi itu perlu dikedepankan, karena pelaku kejahatan siber bergerak lebih cepat dalam setiap aktivitasnya. Sementara itu, infrastruktur keamanan yang digunakan oleh banyak pelaku usaha menggunakan vendor yang rumit dan beberapa di antaranya sudah ketinggalan zaman.

“Jika dulu dibutuhkan waktu berhari-hari untuk bisa menjebol sistem keamanan, sekarang hal itu bisa terjadi dalam hitungan jam. Setiap pelaku usaha harus memiliki peta jalan dalam2 hingga 3 tahun ke depan untuk kemudian diintegrasikan ke dalam sistem artificial intelligence, sehingga hasil yang didapatkan bisa menjadi real-time,” jelasnya dalam laporan CNBC.

Pernyataan dari Nikesh Arora nampaknya selaras dengan temuan dari entitas keamanan blockchain PeckShield. Berdasarkan data PeckShield, sepanjang 6 bulan pertama di tahun ini, sudah terjadi lebih dari 395 serangan. Artinya, secara sederhana, dapat disimpulkan bahwa setiap harinya terdapat lebih dari 2 serangan yang menerpa industri kripto.

Jika dikerucutkan lagi, bisa dilihat pula secara kasar bahwa dalam setiap 12 jam, aktor jahat berhasil masuk ke sistem dan melakukan kekacauan di platform kripto.

Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Peningkatan Keamanan Siber

Melihat manuver pelaku kejahatan siber yang semakin gencar, salah satu perusahaan keamanan blockchain, yaitu Elliptic, sudah mulai melakukan integrasi terhadap teknologi AI.

Pada Juni kemarin, Elliptic merilis fitur baru yang bertujuan untuk memudahkan pelacakan transaksi blockchain dan deteksi risiko. Elliptic menggandeng platform generative AI ChatGPT untuk melakukan pengumpulan data sekaligus intelijen off-chain. Kolaborasi tersebut diklaim mampu merangkul lebih dari 97% transaksi kripto berdasarkan volume perdagangan dan kumpulan profil risiko crypto exchange terbesar di dunia.

CTO Elliptic, Jackson Hull, mengatakan adanya sinergitas tersebut akan membuat kecerdasan perusahaan untuk melacak transaksi meningkat. Hal itu sekaligus memberikan informasi bagi pelanggan perusahaan tentang risiko yang tidak diperoleh di platform lain.

Hadirnya AI juga sudah terbukti ampuh dalam menghalau aliran dana ilegal di ruang virtual. BeInCrypto sebelumnya melaporkan bahwa menurut Chainalysis, sampai dengan Juni tahun ini, aliran dana curian yang mengalir di entitas gelap turun 65% secara tahunan. Hal tersebut diduga bisa terjadi, karena semakin banyaknya perusahaan keamanan siber yang sudah menggunakan AI untuk menjaga ekosistem decentralized finance (DeFi). Seperti Anchain.ai dan Cyver.ai, misalnya. Mereka telah memanfaatkan teknologi canggih tersebut untuk menutup celah yang dikunjungi penyerang sebelumnya.

Regulator Minta Laporan Serangan Siber

Urgensi untuk pemanfaatan teknologi artificial intelligence di dunia kripto dinilai Arora juga sudah semakin tinggi. Pasalnya, pada akhir bulan lalu, Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat (AS) sudah merilis aturan yang mewajibkan setiap entitas di wilayah yurisdiksinya untuk memberikan laporan material terkait serangan siber yang dialami.

Masing-masing entitas diberikan waktu selama 4 hari untuk menilai apakah insiden tersebut penting untuk dilaporkan dan melanggar keamanan siber atau tidak. Artinya, setiap platform memiliki waktu kurang dari 4 hari untuk menyelesaikan permasalahan yang dialaminya secara mandiri sebelum mendapatkan kewajiban.

“Setiap pelaku usaha sebenarnya tidak ingin diekspos, karena tidak ada yang ingin memberikan informasi pada SEC bahwa sistem keamanan platform miliknya telah dilanggar dan belum diperbaiki. Jadi, salah satu hal yang harus dipastikan adalah proses perbaikan masalah bisa berlangsung dengan cepat,” tutup Arora.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

BIC_userpic_sb-49-profil.jpg
Adalah seorang penulis dan editor yang pernah berkiprah di banyak media ekonomi dan bisnis. Memiliki pengalaman 7 tahun di bidang konten keuangan, bursa dan startup. Percaya bahwa blockchain dan Web3 akan menjadi peta jalan baru bagi semua sektor kehidupan
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori