Lihat lebih banyak

FTX Akuisisi Blockfolio dengan Modal Mayoritas dalam Bentuk Token FTT

3 mins
Diperbarui oleh Ahmad Rifai
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • FTX ternyata menggunakan native token FTT untuk mendanai akuisisi Blockfolio.
  • Pada 2020, FTX membayar sekitar US$84 juta untuk ambil saham mayoritas Blockfolio.
  • Saat itu, FTX beri mahar campuran antara uang tunai, kripto, dan ekuitas (saham), tanpa rincian lebih lanjut.
  • promo

FTX, crypto exchange yang menipu pelanggannya dan saat ini telah bangkrut, ternyata menggunakan native token yang mereka ciptakan yaitu FTT untuk mendanai akuisisi platform perdagangan kripto Blockfolio.

Mengutip laporan keuangan, Bloomberg pada hari Kamis (22/12) melaporkan bahwa FTX membayar sekitar US$84 juta pada Agustus 2020 untuk mengambil saham mayoritas di Blockfolio.

Pada saat itu, aksi FTX disebut merupakan salah satu akuisisi terbesar di dunia kripto. Adapun sekitar 94% dari dana untuk mengakuisisi Blockfolio dibayarkan dalam bentuk token FTT.

Pada saat kesepakatan akuisisi Blockfolio diumumkan, FTX yang didirikan pada 2019 dilaporkan membiayainya dengan campuran antara uang tunai, kripto, dan ekuitas (saham), tanpa rincian lebih lanjut.

Perjanjian akuisisi itu memberi FTX sebanyak 52% saham ekuitas di Blockfolio dengan valuasi perusahaan hampir US$160 juta, serta memiliki opsi untuk membeli sisa saham Blockfolio dalam kurun waktu 2 tahun.

Dalam laporan pada 2020, Blockfolio disebut merupakan perusahaan yang didirikan pada tahun 2014 yang memiliki lebih dari 6 juta unduhan aplikasi secara kumulatif. Pada Juli 2021, nama aplikasi Blockfolio telah berganti nama menjadi FTX.

Menguak Rekayasa Keuangan dalam Akuisisi ala SBF

Rincian akuisisi Blockfolio, yang belum pernah dilaporkan sebelumnya, menguak sekilas ‘selera’ pendiri dan mantan CEO FTX, Sam Bankman-Fired (SBF), terkait rekayasa keuangan yang aneh dalam hal akuisisi, dan keinginan awal untuk mengumpulkan pelanggan melalui kesepakatan dalam skala besar.

Pada kenyataannya, SBF kembali melakukan praktik yang mirip pada tahun ini, ketika pihaknya berniat membeli cryptocurrency platform Voyager Digital dan crypto lending platform BlockFi, meskipun kesepakatan itu digagalkan ketika FTX meledak dalam kehancuran pada November lalu.

Sebagai pengingat kembali, token FTT memainkan peran utama dalam kehancuran FTX. Hal itu dimulai ketika muncul laporan yang membagikan detail mengenai neraca keuangan Alameda Research. Ternyata, aset terbesar dari perusahaan perdagangan kripto yang turut dimiliki SBF itu dalam bentuk token FTT.

Terkait laporan ini, Changpeng ‘CZ’ Zhao, tokoh utama di balik crypto exchange terbesar di dunia Binance, langsung bereaksi dengan mengumumkan bahwa pihaknya berniat menjual semua token FTT, meski pada akhirnya dia mengklaim tidak jadi menjualnya.

Berdasarkan data CoinGecko, FTT saat ini sudah tidak berharga. Native token FTX ini sempat mencapai harga tertinggi sepanjang masa (all-time high / ATH) di level US$84,18 per token pada 9 September 2021. Kini, FTT hanya bernilai sekitar US$0,8 per token.

Regulator AS Sebut FTT sebagai Sekuritas

Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) Amerika Serikat (AS) pada hari Rabu (21/12) mengatakan bahwa FTT dijual sebagai kontrak investasi dan merupakan sekuritas (efek). Pernyataan ini dinilai akan berdampak luas bagi industri kripto, khususnya bagi token kripto yang dicetak di blockchain yang menggunakan konsensus Proof of Stake (PoS).

“Jika permintaan untuk perdagangan di platform FTX meningkat, permintaan untuk token FTT dapat meningkat. Sehingga, setiap kenaikan harga di FTT akan menguntungkan pemegang FTT secara setara, dan berbanding lurus dengan kepemilikan FTT mereka,” jelas pihak SEC.

Alokasi token FTT yang besar ke FTX memberi insentif kepada tim manajemen FTX untuk mengambil langkah-langkah untuk menarik lebih banyak pengguna ke platform perdagangan FTX. Oleh karena itu, meningkatkan permintaan dan meningkatkan harga perdagangan token FTT.

“Investor FTT memiliki ekspektasi yang masuk akal untuk mendapatkan keuntungan dari upaya FTX menggunakan dana investor guna memanfaatkan FTT dan membawa permintaan dan nilai ke perusahaan bersama mereka,” jelas SEC.

FTX disoroti mengenai hal bahwa mereka akan menggunakan hasil dari penjualan token FTT untuk mendanai pengembangan, pemasaran, operasi bisnis, dan pertumbuhan FTX, sambil menggunakan bahasa untuk menekankan bahwa FTX adalah investasi dengan potensi keuntungan.

Program beli (buy) dan bakar (burn) token FTT juga dibahas. Inisiatif ini, yang digunakan oleh banyak native token dari sejumlah crypto exchange lainnya, mirip dengan skema pembelian kembali (buyback) saham. Pendapatan dari FTX dapat digunakan untuk membeli dan membakar token FTT. Dengan hal ini, token FTT dapat meningkat nilainya.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

userpic_14-1.jpg
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai adalah seorang jurnalis yang meliput sektor startup, khususnya di Asia Tenggara, dan penggila open source intelligence (OSINT). Dia bersemangat mengikuti berbagai cerita tentang perang, tetapi percaya bahwa medan pertempuran saat ini adalah di dunia kripto.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori