Lihat lebih banyak

Tetap Tancap Gas, Goldman Sachs Geber Bisnis Aset Digital

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Goldman Sachs mengaku akan tetap memperkuat bisnis berbasis blockchain mereka dan tidak menahan potensi penambahan karyawan.
  • Kepala Divisi Aset Digital Goldman Sachs, Mathew McDermott, mengungkapkan perusahaan akan tetap mempekerjakan karyawan sesuai dengan kebutuhan bisnis.
  • Sayangnya, hal ini tidak tercermin pada bisnis Goldman Sachs secara keseluruhan. Di bulan lalu, mereka baru saja memangkas lebih dari 3.000 karyawan.
  • promo

Badai crypto winter yang menghempaskan banyak perusahaan aset digital dan membuat lembaga keuangan tradisional mengendurkan tensinya terhadap aset digital. Namun, hal tersebut sepertinya tidak berlaku bagi Goldman Sachs. Raksasa investasi yang bercokol di Amerika Serikat itu mengaku akan tetap memperkuat bisnis berbasis blockchain mereka.

Kepala Divisi Aset Digital Goldman Sachs, Mathew McDermott, mengungkapkan perusahaan akan tetap mempekerjakan karyawan sesuai dengan kebutuhan bisnis. Hal tersebut sekaligus menandakan bahwa Goldman Sachs tidak berencana melakukan perampingan ataupun menahan deru ekspansinya.

“Perusahaan sangat mendukung eksplorasi penggunaan blockchain dan divisi aset digital akan memenuhi kebutuhan tenaga kerja sesuai dengan permintaan,” jelas pihak Goldman Sachs.

Jumlah karyawan di divisi aset digital juga sudah berkembang secara signifikan. Dari awalnya hanya mencapai 4 orang di 2020, kemudian menggelembung menjadi 70 orang pada posisi saat ini. Fakta tersebut juga menunjukkan bahwa bisnis aset digital Goldman Sachs tetap berkembang, meskipun pasar bergerak liar.

Menariknya, kepercayaan diri Goldman Sachs tidak berlaku pada bisnis perusahaan secara keseluruhan. Pasalnya, perusahaan sempat melakukan pemangkasan jumlah karyawan secara masif demi menekan efisiensi. Pada bulan lalu, mereka mengurangi 3.200 karyawan. Jumlah tersebut setara dengan 6,5% dari total karyawan.

Hong Kong Jadi Salah Satu Pengguna Blockchain Goldman Sachs

Perkembangan bisnis aset digital Goldman Sachs juga tercermin dari platform blockchain miliknya, yaitu GS DAP. Jaringan ini sudah dimanfaatkan oleh Hong Kong untuk penjualan obligasi hijau perdananya. Hong Kong memanfaatkan blockchain Goldman Sachs untuk mentokenisasi surat utang hijau senilai HK$800 juta atau sekitar US$102 juta. Dengan aksi tersebut, Hong Kong mampu memangkas penyelesaian transaksi dari 5 hari menjadi hanya 1 hari.

Di samping itu, platform blockchain yang diusung Goldman Sachs berbeda dengan blockchain milik swasta lainnya. McDermott mengungkapkan bahwa GS DAP merupakan private blockchain dan bukan masuk dalam kategori blockchain publik; seperti Ethereum, misalnya.

Berkaca pada kesuksesan GS DAP, terlihat bahwa teknologi blockchain bisa digunakan untuk meningkatkan fungsi pasar, seperti yang dilakukan pada ekuitas swasta.

“GS DAP juga bisa digunakan untuk alternatif bagi aset lainnya seperti derivatif ataupun ekuitas,” tambah McDermott.

McDermott menjelaskan bahwa dengan blockchain, investor bisa melihat data secara lebih transparan dan lengkap. Hal itu yang membuat unit bisnis baru Goldman Sachs ini lebih berkembang dibanding unit lainnya. Berbekal segala kelebihannya dapat mendorong likuiditas lebih banyak, yang pada akhirnya mendatangkan lebih banyak investor di pasar sekunder.

Meskipun begitu, tidak mudah untuk memindahkan segala transaksi keuangan ke blockchain. Apalagi dengan adanya sentimen yang muncul imbas ambruknya FTX di tahun lalu.

Raksasa Investasi Lainnya Juga Getol Investasi di Sektor Kripto

Raksasa investasi lainnya, yakni Credit Suisse, juga sepertinya tidak terpengaruh terhadap penurunan pasar kripto. Di awal tahun ini, perusahaan memimpin pendanaan senilai US$65 juta ke platform infrastruktur aset digital bernama Taurus, yang berbasis di Swiss.

Kendati demikian, desakan bank untuk masuk lebih dalam menggarap kripto rupanya membuat regulator khawatir. Beberapa otoritas perbankan Amerika Serikat (AS); mulai dari Federal Reserve, Federal Deposit Insurance Corporation, dan Office of the Comptroller of the Currrency; mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebutkan bahwa bank harus memiliki alat yang kuat untuk memantau dana milik entitas kripto yang ditempatkan di bank.

Regulator menaruh fokus pada cadangan kripto yang ditempatkan di bank. Misalnya, dalam bentuk stablecoin yang memiliki arus keluar yang cepat. Untuk diketahui, ini merupakan kali pertama bagi otoritas perbankan menaruh fokus tersendiri dalam dana simpanan berbentuk stablecoin.

Meskipun tidak melarang bank untuk melayani simpanan, namun sikap yang ditunjukkan memperlihatkan bahwa para regulator menginginkan sikap lebih hati-hati terhadap industri kripto.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

BIC_userpic_sb-49-profil.jpg
Adalah seorang penulis dan editor yang pernah berkiprah di banyak media ekonomi dan bisnis. Memiliki pengalaman 7 tahun di bidang konten keuangan, bursa dan startup. Percaya bahwa blockchain dan Web3 akan menjadi peta jalan baru bagi semua sektor kehidupan
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori