Presiden European Central Bank (ECB), Christine Lagarde, menolak seruan untuk stablecoin berdenominasi euro. Ia berpendapat stablecoin tidak dapat memperkuat peran internasional euro dan justru bisa menyebabkan ketidakstabilan pendanaan bank di seluruh zona euro.
Berbicara di Banco de España LatAm Economic Forum di Roda de Bará, Spanyol, Lagarde menyampaikan pidatonya sebagai tanggapan langsung atas US GENIUS Act dan juga argumen bahwa Eropa harus menciptakan pengganti dolar sendiri.
Dua Fungsi, Satu Perbedaan Kebijakan
Lagarde memisahkan stablecoin menjadi dua fungsi untuk menguatkan argumennya. Ia menilai, penyamaan kedua fungsi ini telah membuat kebijakan di Eropa menjadi rancu.
- Fungsi moneter memperluas jangkauan global mata uang cadangan.
- Fungsi teknologi memberikan kemudahan settlement on-chain untuk aset yang sudah dibuat token.
Saat ini, nilai pasar stablecoin sudah mencapai lebih dari US$324 miliar. Hampir 98% stablecoin berdenominasi dolar, di mana Tether dan Circle menerbitkan sekitar 90% dari total stablecoin yang beredar.
Aliran transaksi stablecoin kini sudah mencapai 7,7% dari PDB di Amerika Latin dan 6,7% di Afrika dan Timur Tengah. Lagarde menyoroti angka-angka ini untuk menunjukkan bahwa jangkauan dolar di luar Eropa jauh lebih luas dibandingkan euro.
“Stablecoin mengurangi hambatan tersebut karena akses digital lebih cepat dan mudah daripada uang tunai, serta dapat menjangkau penabung di negara-negara dengan mata uang lemah yang bisa menggerus tabungan. Di negara-negara di mana akses ke mata uang yang stabil secara historis terbatas, arus transaksi stablecoin sudah mencapai sekitar 7,7% PDB di Amerika Latin dan 6,7% di Afrika dan Timur Tengah,” terang dia.
US GENIUS Act yang disahkan pada 2025 mengatur bahwa pengawasan stablecoin oleh pemerintah federal menjadi alat untuk menjaga dominasi dolar. Lagarde mengutip tujuan tersebut untuk membandingkannya dengan regulasi Markets in Crypto-Assets (MiCAR) di Eropa yang mulai berlaku pada 2024.
Industri Menantang Diagnosis dan Menyoroti Jalur Alternatif Eropa
Meski begitu, para pengkritik di luar ekosistem perbankan menolak cara pandang Lagarde. Rand Hindi, pendiri perusahaan enkripsi Zama, menyampaikan sanggahan tajam di lapangan.
“Namun, seluruh negara berkembang kini mengadopsi dolar berkat USDT. Ini adalah petrodollar generasi berikutnya, dan sangat jelas bagi siapa pun yang melihat langsung di lapangan…” komentar dia.
Hindi juga menyoroti adopsi dolar di dalam kawasan UE sendiri. Ia menjelaskan bahwa startup Eropa menggalang dana, menagih, dan bertransaksi dalam dolar, lalu memakai euro hanya untuk keperluan pajak.
Lagarde memakai pidatonya untuk menyoroti infrastruktur yang sedang dibangun Eurosystem. Proyek percontohan Pontes akan menghubungkan platform distributed ledger ke TARGET untuk settlement grosir dengan uang bank sentral yang dijadwalkan mulai September.
Roadmap Appia menargetkan ekosistem tokenisasi Eropa yang benar-benar saling terhubung pada 2028. Pada uji coba awal 2024, transaksi senilai sekitar 1,6 miliar euro berhasil diselesaikan di sembilan yurisdiksi dengan total 50 transaksi.
Lagarde berpendapat bahwa keberadaan anchor publik memungkinkan stablecoin yang sesuai MiCAR dan juga deposit bank ber-token bersaing lebih aman tanpa harus menyerahkan infrastruktur settlement kepada penerbit stablecoin dolar.
Sekarang, perbedaan jalan kedua kawasan telah terlihat jelas.
- Washington mengupayakan dominasi dolar lewat penerbitan stablecoin swasta.
- Frankfurt percaya pembangunan infrastruktur publik dan integrasi modal yang lebih dalam bisa membuat euro tetap relevan di dalam chain.
Langganan channel YouTube kami untuk menyaksikan pemimpin dan jurnalis menghadirkan wawasan ahli









