Tether, penerbit stablecoin terbesar di dunia, pada hari Sabtu (9/12) membuat keputusan untuk memulai kebijakan sukarela baru dengan membekukan alamat crypto wallet tertentu yang memiliki Tether USD (USDT). Hal itu dirancang untuk mengurangi aktivitas terkait pihak-pihak yang terkena sanksi dari Amerika Serikat (AS).
Sebagai bagian dari dedikasi yang berkelanjutan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan andal bagi pengguna di seluruh dunia, Tether mengambil langkah proaktif lebih lanjut dengan menerapkan kebijakan baru tersebut untuk melengkapi protokol keamanan yang sudah ada.
Inisiatif ini merupakan tindakan pencegahan dari Tether untuk bekerja lebih erat dengan regulator global dan lembaga penegak hukum dalam menjaga penggunaan stablecoin.
Terkait hal ini, CEO Tether, Paolo Ardoino, mengatakan bahwa keputusan strategis mereka sejalan dengan komitmen teguh untuk mempertahankan standar keselamatan tertinggi bagi ekosistem global dan memperluas hubungan kerja erat dengan penegak hukum dan regulator global.
“Dengan melakukan pembekuan alamat crypto wallet secara sukarela yang masuk dalam daftar sanksi AS, kami akan dapat lebih memperkuat penggunaan positif teknologi stablecoin dan mempromosikan ekosistem stablecoin yang lebih aman bagi semua pengguna.”
- Baca Juga: Adopsi Stablecoin Meroket, Kapitalisasi Pasar Tether (USDT) Tembus Rekor Baru US$90 Miliar
Baru-baru Ini Tether Bekukan Sekitar 161 Wallet
Data on-chain menunjukkan bahwa Tether membekukan 161 crypto wallet baru-baru ini.
Menariknya, 150 crypto wallet itu saat ini tidak memiliki token USDT. Sementara itu, 11 crypto wallet lainnya menyimpan lebih dari 3,5 juta USDT, meskipun sekitar 3,4 juta USDT disimpan hanya di 1 crypto wallet.
ZachXBT, detektif on-chain, menghubungkan sejumlah alamat crypto wallet tersebut dengan peretasan platform taruhan berbasis kripto Stake.com. Crypto wallet itu aktif sesaat sebelum pembekuan Tether, dengan ratusan transaksi dalam seminggu terakhir.
Lakukan Pembekuan USDT Terbesar dalam Sejarah
Sebelumnya pada 20 November lalu, Tether mengumumkan bahwa mereka telah membekukan sekitar 225 juta USDT. Ini merupakan pembekuan USDT terbesar yang pernah ada dalam sejarah.
Pembekuan stablecoin itu terkait dengan sindikat perdagangan manusia internasional di Asia Tenggara yang bertanggung jawab atas penipuan berkedok romansa.
Investigasi bersama dilakukan menggunakan alat dari perusahaan analisis blockchain Chainalysis, dan bekerja sama dengan crypto exchange OKX.
Tether Cetak 4 Miliar USDT Baru dalam Sebulan Terakhir
Sebelumnya, Tether kedapatan semakin banyak mencetak USDT. Dalam satu periode sebulan terakhir, Tether mencetak sekitar 4 miliar USDT baru.
Pertama, 1 miliar USDT dicetak di blockchain TRON pada 19 Oktober lalu. Kemudian, Tether menerbitkan 1 miliar USDT di TRON pada 3 November lalu.
Lalu, Tether kembali mencetak 1 miliar USDT di blockchain Ethereum pada 9 November lalu. Dalam periode keempat, Tether kembali mencetak 1 miliar USDT di TRON pada 10 November lalu.
USDT yang diterbitkan dalam sebulan terakhir merupakan bagian yang signifikan dari total USDT baru yang hadir pada tahun 2023.
Berdasarkan data Whale Alert, Tether mencetak sekitar 22,75 miliar USDT pada tahun ini. Sekitar 13 miliar USDT atau 57% dari total yang diterbitkan pada tahun ini eksis di TRON. Sementara sisanya sebesar 9,75 miliar USDT dicetak di Ethereum.
Di samping menerbitkan stablecoin baru, Tether juga beberapa kali membakar sekitar 4,3 miliar USDT. Sejauh ini, market cap atau kapitalisasi pasar USDT mencapai US$87,86 miliar.
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Penyangkalan
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.
Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.