Lihat lebih banyak

Apakah Proof of Reserves (PoR) Cukup bagi Industri Kripto?

6 mins
Oleh Josh Adams
Diterjemahkan Zummia Fakhriani
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Insiden kebangkrutan FTX telah membawa perhatian baru pada “proof of reserves” (PoR) untuk melindungi dana simpanan para pengguna.
  • CEO Binance baru-baru ini menerbitkan proof of reserves mereka sendiri, dan mendapat tanggapan beragam.
  • CEO Kraken, Jesse Powell, menyebut PoR tidak berguna jika tanpa menyertakan liabilitas dan banyak pihak lain yang setuju dengan pendapat itu.
  • promo

Akhir-akhir ini, sektor kripto semakin heboh saja akibat kasus bursa-bursa yang menjadi korban peretasan, kehilangan dana pelanggan, atau parahnya lagi, berakhir dengan kasus penipuan yang super rumit. Selain itu, runtuhnya FTX karena krisis likuiditas dalam beberapa minggu terakhir ini juga telah menjadi bencana yang paling fenomenal sampai saat ini.

Untuk menanggapi menyurutnya performa yang terlihat jelas ini, banyak bursa yang telah mengambil langkah untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan di antara para penggunanya. Proof of reserves (PoR) adalah salah satu di antaranya, dengan banyak bursa terkemuka yang sekarang menerapkan strategi ini. Sederhananya, proof-of-reserves adalah proses di mana bursa akan memverifikasi bahwa mereka memiliki cadangan dana yang cukup (dalam hal ini, berupa fiat dan aset kripto) untuk mendukung saldo pelanggannya.

Selain itu, proof of reserves sendiri sudah menjadi topik berita utama dalam beberapa minggu terakhir setelah runtuhnya FTX. Dalam sebuah unggahan cuitan pada 8 November lalu, yaitu sebelum bursa tersebut mengajukan kebangkrutan, CZ berjanji untuk menerapkan PoR untuk memberikan “transparansi penuh.” Dan pada hari Jumat, 25 November, Binance menerbitkan situs baru untuk menjelaskan sistem PoR mereka. Saat ini, Binance memiliki rasio cadangan 101%. Secara teori, angka ini mencerminkan bahwa Binance memiliki cukup uang untuk menanggung simpanan penggunanya.

Apa itu Proof of Reserves (PoR)?

Proof of reserves sendiri bukanlah konsep yang baru dalam dunia keuangan. Sebab, metode yang serupa juga sudah digunakan oleh bank di seluruh dunia. Tujuannya, untuk membuktikan kepada pelanggan mereka bahwa pihak perusahaan memiliki dana yang cukup untuk menanggung dana simpanan pelanggannya.

Sementara itu, dalam konteks kripto sendiri, proof of reserves adalah metode yang digunakan untuk memverifikasi bahwa jumlah aset fiat dan kripto yang dipegang oleh bursa tertentu cukup untuk menanggung dana yang terutang kepada pelanggannya. Hal ini dilakukan dengan cara menyajikan hash kriptografi dari jumlah yang mereka pegang. Kemudian, laporannya mereka publikasikan di situs web bursa, bersamaan dengan tautan ke laporan audit pihak ketiga yang terverifikasi. Selain memberikan transparansi, proses ini juga berguna untuk memberikan perlindungan dari karyawan bursa yang menyalahgunakan dana pelanggan. Karena laporan audit tersebut akan memverifikasi bahwa data yang dipublikasikan sudah akurat dan hash-nya cocok dengan dana yang dimiliki, potensi bahwa bursa penerbit PoR melakukan penipuan juga menjadi berkurang.

Bagaimana Cara Kerja Proof of Reserves?

Untuk langkah pertamanya, bursa akan membuat hash kriptografi dari jumlah dana yang mereka miliki. Mereka kemudian perlu mempublikasikan hash itu dan juga jumlah dana yang tersimpan di situs web mereka. Sementara itu, tautan yang terlampir nantinya akan diarahkan ke laporan audit pihak ketiga yang memverifikasi bahwa hash yang dipublikasikan cocok dengan dana yang dipegang oleh bursa tersebut. Dalam hal ini, hash itu sendiri dihasilkan dengan menggunakan program komputer yang secara acak memilih angka antara 0 sampai 100.000.000.

Baru setelah itu, bursa akan mengambil nomor ini dan menambahkannya ke dalam jumlah dana yang dimiliki. Sehingga, bursanya dapat membuat hash baru yang dapat mereka publikasikan di situs mereka. Nah, jadi jika nantinya ada seorang karyawan bursa yang berniat menyalahgunakan dana tersebut, maka mereka harus menebak jumlah yang akan ditambahkan ke dana yang disimpan dan hal ini akan sangat sulit untuk dilakukan, serta akan menimbulkan ‘red flag‘ yang serius di antara para karyawan bursa tersebut. Selain itu, karena hash-nya tersedia untuk publik, maka perbedaan apa pun yang terdeteksi di antara hash yang terbit dan dana yang tersimpan akan terlihat sangat mencurigakan.

Industri Kripto: “Proof of Reserves Saja Tidak Cukup!”

Akan tetapi, ada banyak keraguan yang muncul terkait penggunaan proof of reserves untuk mengamankan dana pengguna bursa kripto. Menanggapi hal ini, Jesse Powell, CEO, dan co-founder bursa yang berbasis di AS, Kraken, menyebut bahwa praktik itu “tidak ada gunanya” bila bursa tidak menyertainya dengan liabilitas – atau berapa banyak utang yang bursa tersebut miliki. Dia berkata: “Menempatkan hash pada deretan ID [saja] tidak ada gunanya tanpa [dukungan informasi] yang lainnya.”

Jesse Powell bukanlah satu-satunya yang memperingatkan tentang strategi pengamanan dana dengan prosedur PoR. Bagi banyak orang, solusinya dapat ditemukan dengan kembali ke premis dasar kripto: bahwa kamu tidak dapat mempercayai entitas terpusat.

Proof of reserves belum tentu merupakan solusi yang buruk, tetapi tetap tidak [bisa] memberikan gambaran lengkap tentang solvabilitas bursa atau mengubah kebenaran mendasar yang mendasarinya,” ujar Omer Sadika, co-founder Odsy Network.

Kemudian, dia menambahkan, “Bursa terpusat bisa mencoba memanipulasi proof of reserves mereka, dan sampai saat ini, sebagian besar bursa [masih] menahan informasi penting lainnya seperti total liabilitas mereka. Tanpa [adanya] perincian liabilitas yang menyertai, [sebatas] proof of reserves bursa saja belum cukup.”

Perlu Ada Audit yang Lebih Baik dan Juga Independen

BeInCrypto sudah sempat berdiskusi dengan banyak tokoh di industri kripto. Tim kami telah mendapat bisikan bahwa sebatas proof of reserves saja memang tidak cukup. Apalagi, terkhusus pada bursa terpusat atau centralized exchange (CEX), di mana mereka perlu mengambil langkah tambahan.

Dalam beberapa kesempatan, kami mendapat kabar bahwa mengikutsertakan liabilitas bahkan masih belum tergolong cukup. Menurut Mark Lurie, CEO, dan co-founder software Shipyard, “Bursa bisa [saja] memiliki banyak aset, tetapi telah menggunakannya sebagai kolateral untuk pinjaman yang memberikan klaim pertamanya [kepada] lender.” 

Proof of liabilities bisa membantu, tapi liabilitas tidak [tersedia secara] on-chain, yang berarti proof of liabilities harus berasal dari auditor independen. Pada titik itu, [hal] tersebut sama-sama membuktikan bahwa semua perusahaan publik dan yang teregulasi harus memberikan laporan keuangan yang [telah] diaudit. Mungkin kita [perlu] kembali belajar [dari] TradFi, bahwa lembaga keuangan terpusat harus melaporkan balance sheet mereka kepada seseorang; baik publik atau regulator.”

Selain itu, perlu kita catat juga bahwa sebelum bangkrut, FTX telah diaudit oleh dua perusahaan berbeda, yaitu Armanino dan Prager Metis. Namun, keduanya bukanlah anggota perusahaan akuntansi Big Four. Terlebih lagi, di antara keduanya tidak ada yang pernah melakukan audit pada perusahaan dengan skala dan kompleksitas seperti FTX. Karena ukurannya itu jugalah, regulator audit Dewan Pengawas Akuntansi Perusahaan Publik (PCAOB) memeriksanya hanya sekali dalam tiga tahun.

Lalu, tentu saja institusi raksasa seperti bursa kripto terpusat jarang memilih untuk melakukan transparansi tanpa adanya paksaan terlebih dulu. Meskipun beroperasi di ekosistem yang seharusnya menghargai keterbukaan, pengguna masih belum sepenuhnya memberontak. Terkait hal ini, Mark menambahkan, “Mengapa [harus] menambahkan beban pelaporan jika tidak wajib oleh hukum dan pengguna [juga] tidak pergi?”

Kepercayaan Pengguna Harus Bisa Pulih Lagi

Hal yang menjadi pertanyaan, mengapa butuh waktu lama bagi para pemain besar di industri ini untuk membahas tentang pentingnya transparansi? Menurut Antoni Trenchev, mitra co-managing Nexo, “Pertama-tama, kripto masih mengalami tingkat adopsi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bagi kami, itu lah alasan utama transparansi terus [jadi] pembicaraan. Kebutuhan akan itu semakin nyata jika sektor ingin bergerak maju.”

Kemudian, dia melanjutkan, “Ketika pasar tumbuh dan ekonomi global sedang meledak, [akan] mudah untuk terjebak dalam ilusi bahwa hanya masa depan indah yang ada di depan dan naif terhadap tren reversal.”

Seiring dengan sektor kripto yang terus tumbuh pesat, maka semakin penting juga untuk melindungi investor dari bursa-bursa penipuan. Dalam hal ini, proof of reserves tentu saja merupakan langkah yang tepat. Tetapi, masih ada beberapa perbaikan yang dapat bursa lakukan untuk meningkatkan transparansi dan kepercayaan pelanggan. Sangat penting bagi investor untuk memiliki akses ke informasi tentang keuangan bursa yang mereka gunakan. Hal ini mencakup informasi tentang bagaimana perusahaan tersebut disusun, dan bagaimana mereka menghasilkan pendapatan. Selain itu, perlu juga perincian tentang karyawan dan pemegang sahamnya.

“Sebagian dari alasan yang membuat para pemain besar perlu waktu lama untuk mengadopsi transparansi secara default adalah bahwa mereka hanya lah replika sistem keuangan umum [yang] kontemporer,” kata Don Gossen, CEO dan co-founder Nevermined, “argumen sederhana CEX adalah bahwa pesaing mereka tidak transparan, jadi mengapa mereka harus [transparan].”

Mempertimbangkan semua hal di atas, mungkin sekarang memang sudah waktunya bagi kita untuk berekspektasi lebih terhadap upaya transparansi para perusahaan di sektor kripto.

Bagaimana pendapat Anda tentang proof of reserves di industri kripto? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

Zummia.jpg
Zummia Fakhriani
Zummia adalah seorang penulis, penerjemah, dan jurnalis dengan spesialisasi pada topik blockchain dan kripto. Ia mengawali sepak terjang di industri kripto sebagai trader kasual sejak 2015. Kemudian, mulai berkiprah sebagai penerjemah profesional di industri sejak 2018 sembari mengenyam tahun ketiganya di program studi Sastra Inggris kala itu. Menyukai topik terkait DeFi, koin privasi, dan web3.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori