Kripto Makin Populer, Jumlah Pekerja di Industri Blockchain Meningkat 76%

Diperbarui oleh Lynn Wang
Ringkasan
  • Data dari LinkedIn dan bursa kripto OKX menyebutkan bahwa pekerja yang ada di industri blockchain meningkat 76% dibanding tahun lalu.
  • Amerika Serikat, India, dan Cina adalah tiga negara dengan jumlah pekerja terbanyak di sektor blockchain.
  • Namun, dari segi pertumbuhan pekerjanya, yang menempati posisi tiga teratas adalah India, Singapura, dan Kanada. Sementara itu, Indonesia menempati peringkat ke-8 dalam kategori ini.

Crypto winter ternyata tidak menyurutkan popularitas mata uang digital. Di tengah gempuran penurunan harga kripto, jumlah pekerja yang ada di industri blockchain malah meningkat signifikan. Data dari LinkedIn dan bursa kripto OKX menyebutkan bahwa pekerja yang ada di industri blockchain meningkat 76% dibanding tahun lalu.

Amerika Serikat (AS), India, dan Cina adalah negara dengan jumlah pekerja blockchain terbanyak. Ketiga negara tersebut memang merupakan destinasi bagi pengembangan bisnis blockchain.

Ketika melihat nama Amerika Serikat dalam daftar, tentunya kita tidak heran. Pasalnya, ada banyak bursa kripto global yang bercokol dan menancapkan bisnisnya di sana. Namun, yang menarik adalah masuknya Cina dalam daftar tersebut.

Rupanya, meski pemerintah setempat menyatakan perang terhadap pemanfaatan aset kripto dan turunannya, termasuk non-fungible token (NFT), namun ternyata mereka tengah mengembangkan platform blockchain miliknya sendiri, yaitu Blockchain-based Service Network (BSN).

Di Cina, pertumbuhan permintaan di sektor blockchain bahkan jauh lebih tinggi daripada pertumbuhan jumlah tenaga kerja lainnya. Per Juni kemarin, pertumbuhan permintaan untuk pekerja di industri blockchain meningkat 60%, sedangkan pertumbuhan tenaga kerjanya hanya mencapai 12%.

Kemudian, India juga termasuk dalam peringkat tersebut. India sendiri merupakan salah satu negara dengan tingkat pertumbuhan adopsi kripto tercepat. Tengok saja, pada November tahun lalu, jumlah orang yang memiliki kripto di negara tersebut baru mencapai 14,7%. Setelah itu, 2 bulan berselang, capaian itu naik ke level 23,4% di Januari 2022. Lalu, kembali naik di April kemarin, hingga tingkat kepemilikan kripto berada di level 29,9%. Adapun jumlah tersebut mencapai dua kali lipat dari rata-rata kepemilikan kripto dunia.

Melesatnya jumlah pekerja di sektor blockchain juga didorong oleh penerapan teknologi blockchain yang sudah menjadi infrasruktur dasar dalam revolusi teknologi global belakangan ini. Selain itu, blockchain juga terus memperluas aplikasinya dengan optimalisasi blockchain+.

Indonesia Tempati Peringkat ke-8 untuk Pertumbuhan Pekerja dalam Sektor Blockchain

Dari segi pertumbuhan pekerja blockchain, India menempati peringkat pertama, dengan tingkat pertumbuhan 122%. Setelah itu, Kanada dan Singapura menyusul di posisi kedua dan ketiga. Masing-masing dengan persentase pertumbuhan 106% dan 92%.

Grafik 10 Negara dengan Pekerja Blockchain Teratas | Sumber: LinkedIn Talent Insights

Menariknya lagi, ternyata Indonesia juga masuk ke dalam peringkat 10 negara teratas dalam hal pertumbuhan pekerja sektor blockchain. Indonesia menduduki peringkat ke-8 untuk kategori ini, dengan tingkat pertumbuhan sebesar 43%. Posisi Indonesia berada di bawah Bulgaria, yang mencatatkan persentase sebesar 52%. Meski begitu, peringkat Indonesia berada di atas Polandia dan Cina, yang pertumbuhannya masing-masing mencapai 24% dan 12%.

Capaian tersebut selaras dengan hasil survei dari crypto exchange Gemini. Menurut survei tersebut, Indonesia memiliki tingkat adopsi kripto sebesar 41% di antara negara-negara lain di dunia. Jumlahnya hampir setara dengan Brasil yang juga ada di posisi puncak.

Metaverse dan Web3 Juga Ikut Mendorong Pertumbuhan Blockchain

Membincang pertumbuhan blockchain, tak dapat dilepaskan dari metaverse dan Web3. Sebagai penyokong dalam hadirnya industri metaverse dan Web3, blockchain otomatis ikut mendapatkan dampak positif atas perkembangan kedua sektor anyar tersebut. Data dari International Data Corporation menyebutkan bahwa blockchain akan mencapai tingkat pertumbuhan majemuk, atau sekitar 48%, terhitung sejak 2020 sampai 2024 mendatang.

Sementara itu, Cina dengan blockchain versinya sendiri akan tumbuh 54,6% dari tahun 2020 sampai 2025. Menurut proyeksi, blockchain Cina, konon, mampu merajai pasar blockchain global.

Di samping itu, masuknya banyak merek global ke kancah metaverse juga menjadi indikator potensi metaverse itu sendiri dan pada akhirnya akan ikut mendorong pemanfaatan teknologi blockchain.

Pengembangan Web3 pun tidak kalah menariknya. Data dari OKX menyebutkan bahwa di tiga bulan pertama tahun ini, perusahaan rintisan berbasis Web3 sudah menerima investasi lebih dari US$173 juta.

Selain itu, lebih dari 15 venture capital telah menggelontorkan dana khusus Web3 lebih dari US$4 miliar. Contohnya, Sequoia Capital dan a16z yang sudah mendedikasikan ratusan juta hingga miliaran dolar AS untuk mengembangkan Web3. a16z bahkan sudah berhasil mengumpulkan US$4,5 miliar, yang mana US$1 miliar dari kumpulan dana tersebut mereka gunakan untuk membangun benih investasi di sektor Web3.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram Be[In]Crypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.