Lihat lebih banyak

Meta Kembangkan AI untuk Video, Bagaimana dengan Metaverse?

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Meta Platforms baru saja merilis sistem AI yang mampu melakukan fungsi editing video secara mudah bernama Emu Video.
  • Pihak Meta menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan oleh Emu Video memungkinkan pengguna untuk mengubah teks menjadi gambar bergerak atau text-to-video.
  • Meta mengakui bahwa pengembangan proyek tersebut merupakan bentuk penelitian fundamental. Namun, mereka optimistis bahwa inisiatifnya akan diterima oleh orang banyak.
  • promo

Meta Platforms, perusahaan induk media sosial Facebook, Instagram, dan aplikasi perpesanan WhatsApp, tengah bersemangat untuk mengembangkan teknologi generative artificial intelligence (AI). Setelah merilis sistem AI berbasis suara pada Juni kemarin, kali ini, Meta kembali merilis sistem AI yang mampu melakukan fungsi editing video secara mudah bernama Emu Video.

Platform Emu Video, yang merupakan evolusi dari alat pembuat gambar, kini bisa menjadi alat untuk membuat video secara ringkas.

Dalam keterangan resminya, Meta menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan memungkinkan pengguna untuk mengubah teks menjadi gambar bergerak atau text-to-video. Teknologi tersebut itu mirip dengan model AI Meta lainnya, yaitu Voicebox, yang mengusung konsep text-to-speech.

Meta sendiri sebenarnya sudah memiliki sistem AI yang mampu mengubah teks menjadi video yang dinamakan Make-A-Video. Namun, Emu Video digadang-gadang memiliki kemampuan yang jauh lebih baik dari Make-A-Video, sebab menggunakan pendekatan yang lebih efisien.

Menurut Meta, Emu hanya menggunakan dua model difusi untuk menghasilkan video berdurasi 4 detik, sedangkan Make-A-Video membutuhkan 5 model untuk memberikan hasil yang mendalam.

“Kami juga mengembangkan Emu Edit yang memungkinkan pengguna untuk memperbaiki gambar secara komprehensif dengan menggunakan instruksi berupa teks. Maka dari itu, kami sudah mengembangkan kumpulan data yang berisi 10 juta sampel yang sintetis.”

Meta Platforms

Meta Sebut Proyek AI Masih Bersifat Penelitian

Meskipun begitu, Meta mengakui bahwa pengembangan proyek tersebut merupakan bentuk penelitian fundamental. Namun, mereka optimistis bahwa inisiatifnya akan diterima oleh orang banyak, karena potensi kasus untuk implementasinya sudah terlihat jelas. Seseorang yang tidak memiliki keahlian teknis untuk melakukan edit foto ataupun membuat video bisa memanfaatkan kemampuan dari AI generative guna mewujudkannya.

Rentetan pengembangan AI yang dilakukan Meta memperlihatkan bahwa perusahaan memang serius untuk mengintegrasikan teknologi artificial intelligence ke dalam operasional bisnisnya.

Namun, di sisi lain, segmen metaverse yang sempat membuat nama Meta meroket tidak memperlihatkan perkembangan yang berarti. Bahkan, pada Oktober kemarin, Meta dikabarkan bakal melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) di unit bisnis yang menaungi pengembangan metaverse, yakni Reality Labs.

Mereka yang terkena dampak diduga merupakan tenaga kerja di unit Facebook Agile Silicon Team (FAST). Unit tersebut memiliki tanggung jawab membuat chip khusus untuk menunjang integrasi perangkat augmented reality (AR) dan virtual reality (VR) berjalan lebih efektif. Tetapi, dalam prosesnya, FAST dikabarkan mengalami kesulitan untuk memproduksi chip tersebut. Alhasil, Meta pun tetap bergantung pada hasil produksi dari pihak eksternal.

Kembali Tegaskan Bakal Gunakan AI untuk Metaverse

Saat Meta Connect 2023 pada bulan September kemarin, pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Meta Platforms, Mark Zuckerberg kembali menegaskan bahwa dirinya akan memanfaatkan AI untuk memajukan metaverse.

Sosok yang kerap disapa Zuck ini berpendapat bahwa pengalaman banyak orang terhadap AI masih terbatas. Oleh sebab itu, Zuck berniat untuk mengintegrasikan chatbot AI yang saat ini sudah bisa digunakan pengguna Instagram, Messenger ataupun WhatsApp ke dalam metaverse.

Dalam sebuah kesempatan, Zuck menyebut bahwa tidak lama lagi, masing-masing dari kita akan berada pada titik di mana kehadiran fisik dan digital berjalan berbarengan.

“Anda akan berada di satu tempat secara fisik bersama dengan teman dan yang lainnya juga akan berada di lokasi yang sama secara digital melalui avatar ataupun hologram, dan mereka akan merasakan kehadiran yang sama,” ungkap Zuck.

Pernyataan itu seakan menyiratkan bahwa Zuck memang masih berniat untuk mengembangkan metaverse, tetapi melalui AI.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juli 2024
Platform kripto terbaik di Indonesia | Juli 2024
Platform kripto terbaik di Indonesia | Juli 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

BIC_userpic_sb-49-profil.jpg
Adalah seorang penulis dan editor yang pernah berkiprah di banyak media ekonomi dan bisnis. Memiliki pengalaman 7 tahun di bidang konten keuangan, bursa dan startup. Percaya bahwa blockchain dan Web3 akan menjadi peta jalan baru bagi semua sektor kehidupan
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori