Lihat lebih banyak

Perkuat Pasar Web3, Looking Glass Labs Pacu Aktivasi Merek di Metaverse

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Looking Glass Labs (LGL) ikut hadir di dunia web3 dengan memperkuat penetrasi merek bagi pengguna di ruang metaverse.
  • CEO Looking Glass Labs, Dorian Banks, mengatakan perusahaan berupaya menghadirkan alat untuk memperkuat metaverse ultra realistis demi membantu perusahaan di ruang virtual.
  • Besarnya potensi pengembangan dari metaverse itu sendiri menjadi salah satu alasan perusahaan untuk masuk lebih dalam ke lingkungan digital.
  • promo

Metaverse sepertinya bakal benar-benar menjadi dunia baru bagi beberapa pihak. Di tengah derasnya gempuran berbagai merek global yang masuk dan mengembangkan ekosistem virtual, perusahaan yang berfokus pada aktivasi merek di metaverse, Looking Glass Labs (LGL) ikut hadir untuk memperkuat penetrasi merek bagi pengguna di ruang maya.

Melalui salah satu entitas usahanya, Looking Glass Labs telah mengembangkan platform khusus untuk bisa memperluas eksposur merek secara immersive. Chief Executive Officer (CEO) Looking Glass Labs, Dorian Banks, mengatakan perusahaan berupaya menghadirkan alat untuk memperkuat metaverse ultra realistis demi membantu perusahaan di ruang virtual.

“Sudah ada target perusahaan yang akan diajak untuk bekerja sama. Dengan platform khusus tersebut, aspek teknis untuk aktivasi merek bisa ditangani oleh LGL,” ucapnya dalam keterangan resmi.

Dengan basis bisnis yang berfokus pada Web3, tokenisasi play-to-earn dan juga strategi monetisasi blockchain membuat LGL percaya diri untuk mendorong industri arus utama untuk mengadopsi teknologi virtual.

Besarnya potensi pengembangan dari metaverse itu sendiri menjadi salah satu alasan perusahaan untuk masuk lebih dalam ke lingkungan digital. Hal ini diperkuat dengan data dari McKinsey & Company yang menyebutkan nilai pasar metaverse pada 2030 akan mencapai US$5 triliun.

Ingin Masuki Bisnis Properti di Dunia Virtual

Selain aktivasi merek, perusahaan juga sepertinya akan memasuki bisnis properti metaverse. Dorian Banks mengungkapkan bahwa perusahaan berniat memberikan pengalaman khusus bagi pengguna dalam pemanfaatan lahan yang sudah dibangun sebelumnya secara virtual oleh LGL, termasuk layanan untuk menyediakan eksibisi digital.

Meskipun tidak memaparkan secara detail siapa klien yang sudah digandeng, namun LGL mengaku sudah ada beberapa perusahaan yang masuk dalam tahap penjajakan. Perusahaan-perusahaan potensial itu berasal dari sektor media otomotif, mode, hingga perusahaan pemasaran digital. Kelak mereka akan bersama-sama menciptakan pengalaman unik bagi pelanggan.

“Dengan beragam strategi tersebut diharapkan dapat memberikan tambahan pendapatan bagi LGL. Khususnya melalui pembayaran royalti dan penjualan produk secara berkelanjutan,” tambah Banks.

Untuk dipahami, proyek yang dinamakan Metaverse Pocket Dimension itu merupakan salah satu proyek Web3 yang digarap perusahaan. Banks mengaku masih ada beberapa inisiatif yang akan digarap oleh Looking Glass Labs.

Metaverse untuk Membangun Ekosistem

Hancurnya pasar kripto yang dipicu oleh crypto winter dan kegagalan FTX sepertinya tidak mengendurkan rencana perusahaan. Di samping Looking Glas Labs, masih banyak pengembang metaverse yang juga optimistis terhadap potensi bisnis virtual ke depannya. Seperti Meta Platforms, misalnya.

Induk usaha dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu tetap bersikukuh untuk menggelontorkan dana investasi miliaran dolar AS untuk membangun dunia yang sepenuhnya baru tersebut dan belum menguntungkan. Salah satu niatan Meta dalam mengembangkan metaverse adalah untuk membangun ekosistem digitalnya secara mandiri dan menguntungkan.

Akan tetapi, salah satu kompetitor Meta di bidang teknologi, yakni Apple, Inc., terus mempersempit ruang gerak Meta untuk meraup pendapatan. Lewat salah satu fiturnya, pengguna Apple bisa memilih untuk tidak memberikan akses media sosialnya untuk berbagi data. Hal tersebut membuat Meta jadi tidak begitu lincah memberikan iklan yang sesuai dengan kebutuhan penggunanya.

Tidak hanya itu, pembatasan akses data turut membuat Meta berpotensi kehilangan pendapatan iklan sebesar US$10 miliar di tahun ini.

Akhirnya, mau tidak mau, Meta Platforms tetap harus membangun ekosistemnya sendiri untuk memperkecil friksi dengan pihak lain. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan metaverse dan industri turunannya. Mulai dari Horizon World, headset virtual reality (VR), hingga pengembangan lain yang dimaksudkan untuk mempercepat adopsi teknologi gabungan antara augmented reality (AR) dan VR.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

BIC_userpic_sb-49-profil.jpg
Adalah seorang penulis dan editor yang pernah berkiprah di banyak media ekonomi dan bisnis. Memiliki pengalaman 7 tahun di bidang konten keuangan, bursa dan startup. Percaya bahwa blockchain dan Web3 akan menjadi peta jalan baru bagi semua sektor kehidupan
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori