Lihat lebih banyak

Regulator Hong Kong: Kami Membiarkan Ekosistem Tercipta, tetapi Regulasi Kripto Akan Ketat

3 mins
Diperbarui oleh Ahmad Rifai
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Regulator Hong Kong indikasikan rezim peraturan mereka terkait industri kripto akan ketat.
  • Pernyataan itu disampaikan oleh CEO Otoritas Moneter Hong Kong dalam acara Bloomberg Wealth Asia Summit.
  • Dia mengakui membiarkan para perusahaan kripto menciptakan ekosistem di Hong Kong membawa banyak kegembiraan.
  • promo

Dipuji sebagai oase baru bagi dunia kripto, regulator Hong Kong mengindikasikan bahwa rezim peraturan mereka terkait industri kripto akan ketat.

Pernyataan itu diberikan oleh CEO Otoritas Moneter Hong Kong (HKMA), Eddie Yue, dalam sebuah wawancara di Bloomberg Wealth Asia Summit pada hari Selasa (9/5).

“Kami akan membiarkan mereka [para perusahaan kripto] menciptakan ekosistem di sini dan itu benar-benar membawa banyak kegembiraan. Namun, itu tidak berarti peraturan yang ringan,” jelas CEO Otoritas Moneter Hong Kong.

Langkah Hong Kong Jadi Crypto Hub

Sebagai pengingat, Hong Kong akan memulai rezim lisensi baru untuk penyedia layanan aset virtual atau kripto pada 1 Juni mendatang. Mereka berencana untuk membiarkan investor ritel memperdagangkan aset kripto utama seperti Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH).

Menjadi crypto hub dinilai merupakan bagian dari upaya yang lebih luas bagi Hong Kong untuk memulihkan kredensial wilayah administratif khusus ini sebagai pusat keuangan setelah pembatasan yang dipicu pandemi Covid-19 dan kerusuhan politik dalam beberapa tahun terakhir.

Kini, panduan lebih lanjut untuk bank dalam melayani klien dari latar belakang perusahaan kripto sedang dikerjakan. Selain itu, Komisi Sekuritas dan Berjangka (SFC) Hong Kong akan segera mengumumkan hasil pertimbangannya tentang ruang lingkup partisipasi investor ritel terkait kripto.

Adapun regulator di berbagai negara sedang bergulat terkait bagaimana cara untuk menangani industri kripto secara efektif. Hal ini terjadi usai tahun 2022 menjadi crypto winter yang memukul sejumlah entitas terpusat termasuk crypto exchange FTX yang hancur secara spektakuler pada November 2022.

Di Amerika Serikat (AS), regulator terkait telah menindak sejumlah perusahaan kripto dengan tindakan penegakan hukum dan tuntutan hukum, bahkan ada rumor untuk memutus akses perusahaan kripto terhadap layanan perbankan.

Hal ini, lantas mendorong para pelaku industri kripto di AS mencari alternatif di luar negeri yang lebih ramah terhadap adopsi kripto.

Hong Kong tidak Akan Biarkan Skandal FTX Terulang

Eddie Yue mengatakan bahwa ‘pagar kripto’ Hong Kong sangat ketat dalam beberapa tahun terakhir. Kini, ‘pagar’ itu dinilai telah diturunkan ke tingkat yang masuk akal dan berkelanjutan.

Namun, mereka tetap tidak akan membiarkan terulangnya kejadian seperti yang terjadi di FTX.

Selain izin untuk platform kripto, rezim lisensi Hong Kong yang terkait stablecoin diperkirakan akan hadir pada sekitar tahun 2023 atau 2024.

Bagi CEO Otoritas Moneter Hong Kong itu, kerangka kerja legislatif yang menyandingkan anturan kripto akan membawa transparansi dan kejelasan. Pernyataan ini diberikan sebagai tanggapan atas adanya pertanyaan tentang kekhawatiran yang masih ada bahwa para pejabat Hong Kong masih dapat merusak adopsi kripto di wilayah itu.

Tindakan Keras AS Terhadap Kripto Buka Peluang bagi Hong Kong

Pada 2 Mei lalu, CMCC Global, perusahaan venture capital (VC) yang berfokus pada teknologi blockchain dan didukung investor GoTo, mengatakan bahwa tindakan keras dari regulator AS terhadap industri kripto membuka peluang bagi Hong Kong.

Co-founder CMCC Global, Charlie Morris, mengatakan bahwa AS “menembak dirinya sendiri” dan memberi wilayah lain kesempatan untuk merayu para pelaku bisnis inovatif.

“Kami melihat tempat-tempat seperti Hong Kong memiliki peluang nyata pada saat ini untuk membawa para perusahaan dan pengusaha tersebut ke Hong Kong,” terang Charlie Morris.

Adapun CMCC Global meluncurkan dana senilai US$100 juta (Rp1,46 triliun) untuk berinvestasi di sejumlah startup yang berfokus pada proyek blockchain. Sasarannya adalah perusahaan-perusahaan yang melakukan putaran pendanaan Seri A dan Seri B, baik yang bermarkas di Hong Kong maupun di luar negeri.

Perlu diketahui, Charlie Morris dan Martin Baumann memegang saham mayoritas di CMCC Global. Sementara itu, taipan Hong Kong Richard Li, yang merupakan anak dari miliarder Li Ka-shing, beserta co-foundercrypto exchange Gemini yaitu Cameron dan Tyler Winklevoss, adalah investor di entitas induk CMCC Global.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

userpic_14-1.jpg
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai adalah seorang jurnalis yang meliput sektor startup, khususnya di Asia Tenggara, dan penggila open source intelligence (OSINT). Dia bersemangat mengikuti berbagai cerita tentang perang, tetapi percaya bahwa medan pertempuran saat ini adalah di dunia kripto.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori