Lihat lebih banyak

Inilah 3 Pendiri Proyek Kripto Paling Bermasalah di Tahun 2022, Siapakah Mereka?

7 mins
Oleh Shubham Pandey
Diterjemahkan Zummia Fakhriani
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Di tahun 2022, industri kripto telah diguncang oleh sederet kasus penipuan kripto yang menyebabkan miliaran dolar lenyap dari pasar.
  • Sam Bankman-Fried, pendiri bursa FTX yang bangkrut telah ditangkap pada 13 Desember.
  • Komunitas Twitter telah menyerukan untuk melakukan penangkapan terhadap kalangan penipu lainnya, termasuk Do Kwon dan juga pendiri 3AC.
  • promo

Pasar kripto terpaksa harus merelakan semua keuntungan yang diperolehnya sepanjang tahun 2021. Pasalnya, aksi penurunan besar-besaran ini sebagian besar dipicu oleh proyek kripto yang bermasalah pada tahun 2022. Nama-nama seperti mantan CEO FTX, Sam Bankman-Fried, Caroline Ellison dari Alameda Research, Do Kwon dari Terra, dan pendiri 3AC.

Sampai detik ini, industri kripto masih terus menjadi topik berita utama di seluruh dunia. Pasalnya, ini adalah industri yang masih muda dan berhasil mencapai kapitalisasi pasar hampir US$3 triliun dalam waktu kurang dari 10 tahun. Namun, akhir-akhir ini, banyaknya bursa yang bangkrut dan sederet insiden terkait proyek kripto bermasalah di seluruh sektor telah secara besar-besaran menghambat kemajuannya.

Untuk itulah, menjelang akhir tahun 2022 ini, BeInCrypto menyajikan kompilasi dari beberapa penipu kripto terbesar yang muncul tahun ini.

Tahun Proyek Kripto Bermasalah

Contoh terbaru dan paling populer adalah keruntuhan dramatis dari bursa kripto FTX akibat salah urus dana pelanggan hingga miliaran dolar. Meskipun sang mantan CEO FTX, Sam Bankman-Fried (SBF), telah melakukan berbagai permintaan maaf. Nyatanya, masih banyak pertanyaan yang belum terjawab atas penggunaan ilegal dana pelanggan dan hubungan dekat bursa tersebut dengan perusahaan perdagangan Alameda Research. Selain itu, token native bursa FTX, yakni FTT, juga digunakan dengan cara yang mencurigakan untuk menyesatkan investor, pelanggan, dan regulator.

Terkait hal ini, sebuah utas Reddit menjelaskan tentang apa yang disebut sebagai ‘Infinite Money Scheme.‘ Dalam skema tersebut, Sam Bankman-Fried dan Alameda memanfaatkan aset kripto FTT untuk melancarkan aksi penipuan.

FTX 'Free Money' plan chart from Reddit | Proyek Kripto Bermasalah
Diagram Infinite Money | Sumber: Reddit

Seperti yang BeInCrypto laporkan pada 13 Desember lalu, pendiri bursa yang bangkrut dan bermasalah itu pada akhirnya telah ditangkap di Bahama. Adapun langkah penangkapan itu merupakan upaya kolaboratif dari lembaga otoritas Bahama dan Amerika.

Proyek Kripto Bermasalah #1: FTX, Alameda, dan SBF

Apakah Inti Permasalahan dalam Kasus FTX?

Dalam waktu tiga hari saja, mulai 9 November, valuasi pasar 15 aset kripto terbesar dunia mengalami kerugian lebih dari US$150 miliar. Hal ini terjadi karena platform bursa kripto FTX yang ada di balik token FTT. Pada 6 November, token tersebut mulai kehilangan nilainya. Kemudian, terus berkurang sampai lebih dari 80% dalam kurun waktu hanya 72 jam.

FTX Token (FTT) Price Chart | Proyek Kripto Bermasalah
Grafik Harga FTT oleh BeInCrypto

Ketika runtuh, bursa yang pernah dianggap sebagai bear market thriver itu mengirimkan gelombang kejutan di seluruh industri kripto.

FTX sendiri adalah gagasan dari Sam Bankman-Fried. SBF sebelumnya sempat menuai banyak pujian karena dianggap sebagai penyelamat industri kripto. Selain itu, Sam Bankman-Fried juga mendirikan firma perdagangan kuantitatif Alameda Research pada 2017.

Hubungan yang Mencurigakan

FTX berdiri pada tahun 2019 sebagai platform bursa yang melayani aktivitas jual dan beli kripto. Sam Bankman-Fried adalah pemilik mayoritas dari kedua perusahaan tersebut. Tentu saja, hal ini menimbulkan kecurigaan di kalangan pelaku industri, trader, investor, dan pemangku kepentingan. Mereka menduga bahwa mungkin saja ada konflik kepentingan mengenai apakah Alameda diprioritaskan oleh FTX ataukah sebaliknya.

Pada 2 November, CoinDesk merilis laporan berdasarkan data aset Alameda Research yang bocor. Menurut data tersebut, Alameda mengklaim memiliki aset lebih dari US$14 miliar pada akhir Juni 2022, yang sebagian besar terdiri dari token FTT bursa itu sendiri. Di sini, CEO Alameda Research, Caroline Ellison, mencoba mengatasi ketidakpastian yang muncul dan mengatakan bahwa keuangan perusahaannya terkendali dan perusahaan tersebut berada di jalur yang benar.

Namun, tampaknya pasar tidak mempercayainya, dan para trader mulai menarik dana mereka dari FTX. Situasinya pun semakin parah pada 6 November, tepatnya ketika CEO Binance, Changpeng Zhao, mengumumkan bahwa mereka sepenuhnya melepaskan FTT senilai ratusan juta dolar yang dimilikinya dalam ekuitas.

Alhasil, FTX memproses transaksi senilai US$4 miliar yang jauh lebih banyak dari volume rata-ratanya. Di tengah aksi jual tersebut, banyak pesanan yang tertunda dan permintaan pun juga semakin menumpuk.

Kondisi harga FTX Token (FTT) saat CEO Binance mengumumkan penjualan besar-besaran
Kondisi harga FTT saat CEO Binance mengumumkan penjualan besar-besaran | Sumber: WSJ

Pada tanggal 7 November, jumlah itu meningkat menjadi US$6 miliar. Sehari kemudian, kondisi keuangan FTX pun merosot. Binance kemudian masuk dan menawarkan untuk membeli perusahaan tersebut. Saat itu, FTX memang tampaknya akan memiliki jalan keluar dari masalah likuiditasnya. Namun, sayangnya pada keesokan harinya, Binance menarik diri dari akuisisi tersebut setelah melakukan uji tuntas dan melihat secara langsung kondisi keuangan perusahaan tersebut.

Kebangkrutan Sam Bankman-Fried

Di tengah kekacauan tersebut, bursa yang bermasalah itu sedang diselidiki oleh Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) beserta Departemen Kehakiman. Tak lama kemudian, SBF memberi tahu para investor bahwa FTX tidak dapat memproses penarikan karena kolateral yang telah berkurang dan tidak dapat dilikuidasi. Pada akhirnya, dia mengundurkan diri dari posisi CEO di FTX pada tanggal 11 November, dan Alameda beserta FTX kemudian mengajukan kebangkrutan.

Tapi, tidak sampai di situ saja. Tak lama setelah menyatakan kebangkrutannya, firma analitik kripto Elliptic diberi tahu bahwa terdapat aset kripto bernilai lebih dari US$400 juta yang tampaknya telah lenyap. Keruntuhan tersebut pun mendorong bursa lainnya untuk menunjukkan proof of reserves mereka dan menyerukan transparansi yang lebih tinggi lagi di industri ini.

Untuk saat ini, FTX tercatat sebagai insiden kebangkrutan terkait kripto terbesar yang terjadi hingga saat ini.

Namun, terlepas dari itu semua, ternyata ada sisi lain juga dari cerita ini yang mencakup dugaan hubungan percintaan antara Sam Bankman-Fried dan Caroline Ellison, mantan kepala Alameda Research. Meskipun Ellison tidak mendapat banyak tekanan seperti Sam Bankman-Fried, CEO perusahaan itu sama-sama bersalah karena telah keliru dalam menangani dana kliennya. Laporan terbaru dan kemunculan Ellison di New York menunjukkan bahwa dia dapat berjalan-jalan seolah tanpa masalah pada saat publikasi.

Sementara itu, Alameda sendiri juga menggunakan dana pelanggan FTX untuk melakukan perdagangannya. Baik itu untuk short ataupun long, faktanya dana kolateralnya tidak berasal dari kantongnya sendiri.

Runtuhnya kekaisaran kripto itu juga memiliki kesenjangan multi-miliar dolar antara aset dan liabilitasnya. Meski SBF telah ditangkap, belum ada komentar resmi terkait Caroline Ellison. Namun, ada spekulasi bahwa nantinya dia bisa saja bersaksi melawan Sam Bankman-Fried untuk mencapai kesepakatan kekebalan (immunity deal).

Di sisi lain, penangkapan eksekutif yang bermasalah itu telah menghebohkan komunitas kripto di Twitter. Terbukti dengan sejumlah pengguna yang mengungkapkan pendapat mereka tentang siapa yang mungkin akan menghadapi nasib yang serupa.

Proyek Kripto Bermasalah #2: TerraUSD (UST), Terra (LUNA), dan Do Kwon

Sementara itu, Do Kwon adalah individu terkenal yang ada di balik krisis stablecoin TerraUSD (UST) yang terjadi pada Mei 2022 lalu. Insiden itu telah mengirimkan gelombang kejutan di seluruh sektor kripto, karena UST telah kehilangan pasaknya terhadap dolar AS dan mencabut dukungan dari aset sejenis non-stablecoin-nya. Dalam insiden ini, nilai dari native token ekosistem Terra, yakni LUNA, ambrol 99%. Dengan kata lain, LUNA kehilangan kapitalisasi pasar yang bernilai miliaran dolar hanya dalam rentang waktu beberapa hari.

Alhasil, insiden ini menyebabkan sekitar US$200 miliar dolar lenyap total dari kapitalisasi pasar kripto.

Grafik harga Terra (LUNA) di hari kehancurannya | Proyek Kripto Bermasalah
Grafik harga Terra (LUNA) di hari kehancurannya | Sumber: BBC

Mengingat bahwa UST adalah algorithmic stablecoin yang menggunakan serangkaian smart contract untuk mempertahankan harga dalam jumlah satu dolar, UST tidak memiliki cadangan uang tunai atau aset lain yang bernilai miliaran dolar. Idealnya, UST akan selalu bernilai satu dolar selama LUNA memiliki nilai.

Bagaimana Terra Bisa Bangkrut?

Terjadi aksi jual signifikan yang disertai dengan sejumlah pelanggan yang mencoba menarik dana mereka, serta algoritma yang tidak dapat mengikuti perkembangannya. Dalam tanggapan darurat yang diberikannya, Luna Foundation Guard (LFG) juga terpaksa menjual cadangan Bitcoin mereka demi mencoba menyuntikkan lebih banyak dana untuk menyelamatkan stablecoin tersebut. Namun, hal ini pada akhirnya menekan nilai Bitcoin dan berdampak pada seluruh pasar.

Terra LUNA Do Kwon
Potret Do Kwon, pendiri ekosistem Terra

Pasca keruntuhan Terra, Do Kwon pun menghilang dari negara tempat ia bermukim sebelumnya, yaitu Singapura. Mengingat Do Kwon masih tercatat sebagai warga negara Korea Selatan, otoritas setempat pun tidak tinggal diam. Mereka mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Kwon yang di dalamnya mengutip pelanggaran regulasi pasar modal yang menyebabkan kerugian sebanyak US$40 miliar bagi investor.

Setelah itu, ketika ada laporan bahwa Do Kwon diduga berada di Serbia, Kementerian Kehakiman di Korea Selatan pun segera meminta jalinan kerja sama dengan pemerintah Serbia dalam kasus tersebut. Sehubungan dengan hal ini, Korea Selatan dan Serbia sebenarnya tidak mempunyai perjanjian ekstradisi, tetapi keduanya telah menyetujui Konvensi Eropa tentang Ekstradisi.

Proyek Kripto Bermasalah #3: 3AC, Su Zhu, dan Kyle Davies

Bulan Juni 2022 adalah periode ketika kebangkrutan Three Arrows Capital (3AC) berlangsung. Perusahaan dana lindung nilai yang sempat memiliki lebih dari sepuluh miliar dolar dalam AUM-nya itu diberikan kepada debitur dengan beberapa rekanan yang menagihnya. Setelah insiden itu terjadi, pendiri Su Zhu dan Kyle Davies pun akhirnya menghilang tanpa jejak.

Potret co-founder 3AC, Su Zhu (kiri) dan Kyle Davies (kanan)
Potret co-founder 3AC, Su Zhu (kiri) dan Kyle Davies (kanan)

Semuanya bermula dari satu taruhan yang mengerikan, dan taruhan itu adalah Terra. Salah satu metode yang ingin digunakan Terra untuk tetap bisa menopang USD adalah LUNA Foundation Guard atau LFG. LFG mengumpulkan lebih dari US$1 miliar Bitcoin, yang ditukar dengan US$1 miliar di LUNA. Mereka yang membeli LUNA termasuk nama-nama seperti Jump Crypto, Defiance Capital, dan 3AC.

3AC tercatat membeli 10,9 juta LUNA yang dikunci, karena berada dalam vesting. LUNA milik 3AC itu menelan biaya 3AC sebanyak US$559,6 juta. 3AC sendiri adalah pendukung besar Terra dan bekerja sama dengan LFG untuk mengumpulkan lebih banyak Bitcoin tersebut. Namun, UST yang anjlok secara drastis menyebabkan nilai LUNA merosot tajam.

Pihak Likuidator 3AC Dapat Izin dari Pengadilan untuk Memanggil Co-Founder Su Zhu & Kyle Davies

Menurut unggahan Wall Street Journal, Kyle Davies mengungkapkan bahwa dia dan Zhu awalnya berhasil menangani dampak dari LUNA, tetapi kondisi pasar setelah insiden Terra semakin memperburuk keadaan mereka. Hal ini bertepatan dengan lingkungan makroekonomi dan sentimen kripto yang kian memburuk. Alhasil, 3AC kemudian diperintahkan untuk melikuidasi investasi modalnya dan mengajukan kebangkrutan.

Secara keseluruhan, peristiwa naas ini dan juga para eksekutif yang terkait dengan insiden-insiden di atas telah berkontribusi besar dalam mengantarkan industri kripto ke jurang crypto winter yang gelap dan tidak menyenangkan di tahun 2022. Namun, kita sebentar lagi sudah mulai memasuki tahun 2023.

Bagaimana pendapat Anda tentang berbagai proyek kripto bermasalah di tahun ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

Zummia.jpg
Zummia Fakhriani
Zummia adalah seorang penulis, penerjemah, dan jurnalis dengan spesialisasi pada topik blockchain dan kripto. Ia mengawali sepak terjang di industri kripto sebagai trader kasual sejak 2015. Kemudian, mulai berkiprah sebagai penerjemah profesional di industri sejak 2018 sembari mengenyam tahun ketiganya di program studi Sastra Inggris kala itu. Menyukai topik terkait DeFi, koin privasi, dan Web3.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori